Nasib Jadi Seorang Jomblo

Aku benci dengan semua ini, kenapa cewek yang cantik selalu sudah punya cowok. Nyebelin kan? Aduh, aku berharap sih para wanita cantik itu tidak pernah pacaran sebelum mereka benar-benar mau menikah. Tapi harapanku adalah bak sehelai jerami di dalam tumpukan jarum suntik yang sudah berkarat, sulit diketemui. Sungguh, eman-eman mereka itu, yah kalo pacarannya masih biasa-biasa aja. Masih mending! Lah, klo udah pacaran parah, trus mau dibawah kemana nasib para perempuan-perempuan cantik itu?

Tidak tahukah kau, disana masih banya pemuda tampan cenderung pas-pasan yang menjaga ikhtiar akan masa depan, salah satunya demi mendapat istri yang cantik nan baik hati, serta menjaga nilai-nilai agama. Ah, mungkin benar adanya pria yang baik akan mendapat wanita yang baik juga. Tapi kenapa wanita-wanita yang cantik yang sering pacaran itu aja yang selalu muncul didepanku, mungkin aku juga belum bisa jadi pria yang baik untuk mendapatkan perempuan-perempuan cantik dengan kebaikan diatas mereka..



Fathir terus menulis, sesuatu yang menyebalkan dan bikin penat dipikirannya, dalam selembaran kertas, kemudian dengan sekali genggam dia meremasnya menjadi tak karuan bentuk dan melemparnya begitu saja kedalam bak sampah, diluar jendela kamarnya. Fathir remaja tanggung itu prihatin denga pola hidup remaja seusianya yang sudah mengumbar gaya pacaran diluar adab kesopanan.



“kawan.. maukah kau mendengarkan ceritaku? Sebentar saja..” ucapnya dengan mata sayu, lemas seperti kehilangan emoticon senyum dimakan kepenatan.





Cerita Satu..



            Awan mengumbar kemegahannya, samar-smar semakin gelap menyambut malam yang selalu dirindukan para anak burung, ketika sang induk dalam perantauan. Acho sudah bersiap-siap dengan memejeng motor matic miliknya dihalaman rumah, pelan tapi pasti dia mulai mengelap motor kesayanganya tersebuat sampai mulus, bak paha para personil girlband ibukota. Setelah mandi dan menebarkan minyak wangi belagio di beberapa bagian tubuhnya, Acho sudah terlampau percaya diri. Setelan kaos polos bermerek dan celana skiny jeans, dengan warna sedikit raw. Dia agaknya kelihatan begitu keren, dalam beberapa sisi. Dia berjalan mengintip kedua orang tuanya yang masih berada dalam sebuah bilik mirip kamar yang dijadikan tempat sholat oleh keluarga Acho. Acho menoleh, melihat ibu dan ayahnya masih membaca al-quran seusai sholat magrib.

            “Buk, Yah.. aku keluar sebentar, Assalamualakum.”

            “Oh.. iya nak, Waalaikumsalam..” serentak jawab sang ibu dan ayah. “Oh.. iya nak, masih punya uang jajan?” tambah sang ibu sambil menutup al-quran, kemudian bangkit mendekati Acho.

            “udah, buk!” jawab Acho tersenyum kemudian menggeber motornya meninggalkan rumah.

            Malam ini begitu dingin dan mempesona, serta mampu membuat perbedaan mendasar pada diri acho, dadanya panas, sembab dan was-was. Hatinya bergetar tak karuan, seperti mau menghancurkan raganya. Tapi dia menikmati setiap rasa yang menari-nari didadanya, bagaimanapun perasaan cinta itu menyenangkan, meskipun dalam keadaan cemburu bahkan cemburu secara diam-diam. Sejam sudah Acho berkeliling-liling kota tak jelas, terhitung empat sampai lima kali dia melewati rumah Eva. Bukan Eva Arnaz, pemain film era 70-an. Bukan pula Eva Musdalifah, ataupun Eva yang lainnya. Hanya satu Eva yang membuat benih-benih merah muda di dada Acho bergelora; Eva Fatimah NR, adik kelas Acho dikampus.

            Yah, dia hanya berkali-kali melewati depan rumah Eva, begitu saja. Seperti orang gila.

            ***



            “kita putus?”

            “kamu bercanda?”

            “aku serius,”

            “....”

            “kita sudah tidak cocok lagi..”

            “kamu bercanda, kita belum pernah pacaran, gimana mau putus?”

            “Hah?”

            “kita udah duabulan jalan bareng, aku tak pernah nembak atau nyatakan cinta ke kamu, begitupun sebaliknya kamu.”

            “...”

            “Eva.. dengerin aku, sejak pertama melihatmu sebagai maba, sampai aku merasakan sesuatu yang aneh didada, kemudian setiap malam aku berputar-putar kota tak jelas, melewati depan rumahmu berkali-kali..”

            “...” masih terdiam.

            “aku tak pernah menyatakan cinta kepadamu, kamu sudah mampu menangkap cintaku dengan sendirinya,”

            “...” diam, lekat menatap Acho.

            “sampai akhirnya kita sering jalan bareng seperti sekarang..”

            “Acho..”

            “Eva, dimana letak ketidak cocokan kita? Tunjukkan padaku, kasih tahu, adakah sikapku yang salah padamu?”

            “Acho.. sudah, jangan banyak ngomong,”

            “maksudmu?”

            “bukankah, cinta tanpa perbedaan itu membosankan?”

            “heh?”

            “gausah pasang muka bodoh, pangeran tampanku, ayok kita jalan..”

            “Hah? Jangan ngacoh”

            “tidak, aku tidak ngacoh! Apakah kau tahu jika aku sebenarnya juga mencintaimu?”

            “sudah tahu, tak diragukan lagi. haha”

            “Heh, dasar! Sekarang ajak aku keliling-liling kota dan berkali-kali lewat di depan rumahku,”

            “.....”

            “Hhaha..”





Cerita dua..



            15.43 ditepian sungai kaliber, belakang kota.

            Darimana datangnya cinta? Bahkan semburat jingga di sore haripun tak pernah tahu, apalagi bocah sepertiku? Lihatlah, awan-awan itu termenung, memandang kisah kita hari ini. Begitu sederhana, aku mencintaimu, kamu mencintainya. Itu sering terjadi, aku tak pernah sakit hati, apalagi menjadi benci. Aku tak mampu, membenci dirimu. Bahkan cemburuku pun terasa menyejukkan, kau tak percaya? Kemarilah bersandar sebentar di dadaku. Dan kau akan tahu betapa bajingannya diriku, berani memeluk kamu, pacar orang. Ah, kau juga tak kalah bajingan sayang, bermesraan di depan umum dan bahkan kalian juga masih sepertiku, masih bocah. Apa yang kau harapkan dari dua bocah yang saling berpacaran, tak takutkah kau dengan dosa yang mengintai? Aku tak iri sama sekali, ataupun bagaimanapun kamu menyebutnya. Apa salahnya, dari pada kamu berpacaran dengan bocah tak tahu adat itu, bukankah menurutku lebih baik tidak berpacaran sama sekali, atau sejelek-jeleknya kau masih bisa berpacaran denganku, haha. Yakinlah aku tak sebajingan pacarmu, tapi aku akan menjadi sebajingan pacarmu jika berani-berani memacarimu. Kenapa tidak mungkin? Aku tahu, kau pernah tertarik denganku? Saat kita kelas dua dulu, apa kau anggap aku tak tahu.



            13.10 halaman parkir, sepulang sekolah.

            “aku suka kamu, aku cinta kamu Mei..”

            “Hah, sorry yah, Lang! Aku sudah mencintainya!” ucapmu sewot kearahku, sambil kemudian meneriaki pacarmu dari kejauhan kemudian menggandengnya. Mengapa kau sangat membenciku sekarang, aku tak tahu. Aku kalang kabut dalam perasaan yang mendalam.



            Setahun yang lalu, pada jam yang hampir sama.

            Setahun yang lalu, aku sudah mencintaimu. Kamu juga mencintaiku, aku tahu. Dari sikap perhatian dan salah tingkahmu jika berdekatan denganku.

            “Eh, Lang.. Gilang, kamu tadi dapet salam dari Mei.. Meisyaroh, eh, cie.. haha.” ucap Ucop teman deketmu, teman sekelas kita. Tidak hanya Ucok teman-teman yang lainnya pun sering bilang begitu, apakah kau anggap aku tak tahu artinya semua itu. Cinta itu sederhana Mei, ketika mata berpaut kemudian hati bergetar, itu yang kualami kepadamu, begitupun yang kau alami. Ah, entahlah aku masih bocah, tahu apa itu cinta.

            ***



Aku dan kamu berdiri, saling pandang, dipojok kelas, entah bagaimana ini bisa terjadi, sepertinya kau sudah berpolitik dengan teman-teman kelas. Aku terpojok, hatiku dag dig dug tak tentu, apa yang kau mau Mei.

            “ehmm, Gilang..”

            “...” aku terdiam, semakin tak tahu perasaan.

            “aku suka kamu, maukah kau berpacaran dengaku?”

            Aku terbelalak.







Aku benci cinta yang hadir terlalu dini.

Tulisan Diary Gilang, pelajar SMP Negeri Merdeka.









Cerita tiga..



            Aku sedang asyik menonton acara televisi kesukaanku disiang hari, sepulang sekolah. Yah, klo lagi beruntung film kartun begini, aku dapet. Kalo lagi sial, yah acara Ftv tidak kalah seru, meski aku sendiri rada bingung dengan alur cerita dan apaan sih, pacaran itu? Kenapa di ftv itu selalu ada saja adegan suka-sukaan antara cewek dan cowok, haha. Aku jadi keinget, kemarin buku catatanku ada tulisan i love u, forever. Aku tak tahu apaan itu artinya, aku baru kelas 4 SD. Kalopun tahu, i love you itu kalo gak salah aku suka kamu, nah yang forever ini aku rada gak ngerti. Aku tahu itu ulah siapa, dia memang suka bercanda. Setidaknya dia cantik, seperti kakak-kakak di ftv tersebut.

            “Rio.. ganti seragam kamu dulu, cuci tangan dan segera makan.”

            “Bu.. mana kelerengku di atas mejaku kok gak ada?”

            “Udah, Ibu buang! Awas aja, klo masih duit jajanmu kamu buat beli kelereng terus, hah!”

            “Hah, Ibu jahat! Gimana mau gak beli lagi, klo tiap hari ibu buang,” aku berlari menuju kamar, dengan muka marah dan jengkel.

            Ibu masih saja berteriak-teriak tak jelas, kemudian aku mendengar ayah dari jauh juga berteriak kepada ibu, “Ibu.. lihat kelakuan anak kamu itu, masih sekolah sudah berani-beraninya berpacaran!”

            Aku terkaget, kemudian mengintip dari ambang pintu kamar, ada yang aneh.. ah, aku tahu itu paling juga ulah si kakak.

            “ada apa yah?”

            “lihat itu si Angel, dia sudah berani-beraninya pulang kerumah dianter ama cowok,”

            “Hah, sabar yah..”

            “lihat ini, aku menemukan di bawah kasur kamar Angel, surat cinta bu, sampai bertumpuk begini,” kelihatannya ayah murka, dia sampai melemparkan surat-surat itu dihadapan ibu.

            Ibu hanya bengong, melirik kamar kak Angel yang terbuka. “Yah.. bagaimana mungkin anak kita pacaran, ini salah paham,”

            “Dengan bukti sebanyak ini, ibu masih membela Angel?”

            Ibu, berlari kecil menuju kamar kak Angel, menghampiri kakak yang menangis sesenggukan menutupi mukanya dengan bantal. “Nak.. benar kamu pake pacar-pacaran segala?”

            Kak Angel masih sesenggukan, tak menjawab apapun.

            Ayah menyenderkan tubuhnya di sofa, depan televisi. Kemudian memindah chanel TV yang aku tonton tadi, mukanya masih begitu marah. “Biar.. mulai besok si Angel tak kita perbolehkan bawa HP dulu, sampai dia lulus enam bulan lagi.”

            “Jangan salah, ayah juga punya akun facebook dan twitter, awas aja kalo kamu masih macam-macam juga disana, kamu sebenarnya masih mau melanjutkan kuliah atau mau nikah saja setelah lulus?” tambah ayah.



            ***

            Ah, kasihan kakak. Aku menutup pintu kembali, melihat buku catatanku, kulihat tulisan “i love u forever” itu, aku tulis dibawahnya, “i love you to, forever.” Kemudian aku simpan lekat-lekat agar ayah tidak sampai tahu.









Begitulah cerita Rio kepadaku, “udah yah, kak Fathir. Rio mau balik kerumah dulu, nanti Ibu nyari gak enak, makasih kak kelerengnya, hehe.”



            ***





“Kawan, begitulah ketiga ceritaku, masih kah kau mau memberiku arti sebuah cinta dalam berpacaran? Aku bingung, ta tahu. Ah, iya.. mana cerita keempat darimu, kawan?”
thumbnail
Judul: Nasib Jadi Seorang Jomblo
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh

Artikel Terkait Cerita :

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright © 2013. About - Sitemap - Contact - Privacy - Disclaimer
Template Seo Elite oleh Bamz